
masjidmunzalan.id – Kuasa Allah SWT meliputi seluruh alam semesta. Tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi-Nya apabila Dia telah menghendaki sesuatu terjadi. Apa yang tampak mustahil bagi manusia dapat menjadi nyata dengan kehendak Allah SWT.
Salah satu kisah yang menggambarkan kebesaran kekuasaan Allah SWT terjadi pada masa Rasulullah SAW, yaitu kisah seorang sahabat bernama Abu Dujanah yang mendapatkan karunia berupa sebuah pohon kurma yang berpindah tempat.
Kisah ini bukan hanya menunjukkan mukjizat kekuasaan Allah, tetapi juga mengajarkan nilai kejujuran, menjaga kehalalan rezeki, serta tanggung jawab seorang ayah dalam mendidik keluarganya.
Abu Dujanah, Sahabat Pemberani yang Menjaga Amanah
Abu Dujanah memiliki nama asli Samak bin Kharsyah. Ia termasuk salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dikenal pemberani dan memiliki kemampuan dalam medan peperangan.
Dalam Perang Uhud, Abu Dujanah menjadi salah satu sahabat yang dipercaya memegang pedang Rasulullah SAW. Ia juga dikenal dengan ciri khas ikat kepala merah yang dikenakannya ketika berada di medan perang.
Namun, di balik keberaniannya dalam perjuangan Islam, Abu Dujanah memiliki sifat mulia dalam kehidupan sehari-hari. Ia sangat berhati-hati dalam menjaga sesuatu yang bukan menjadi haknya, termasuk makanan yang dikonsumsi keluarganya.
Mengapa Abu Dujanah Selalu Bergegas Usai Salat Subuh?
Rasulullah SAW memperhatikan sebuah kebiasaan Abu Dujanah. Setiap selesai salat Subuh berjamaah, Abu Dujanah selalu segera meninggalkan masjid sebelum Rasulullah SAW selesai berdoa.
Suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepadanya:
“Apakah kau tidak membutuhkan Allah?”
Abu Dujanah menjawab:
“Tentu saja, wahai Rasulullah.”
Kemudian Rasulullah SAW bertanya kembali:
“Lalu mengapa kau tidak duduk terlebih dahulu sampai selesai doaku?”
Abu Dujanah pun menjelaskan alasannya.
Ia mengatakan bahwa rumahnya berdekatan dengan rumah seorang tetangga yang memiliki pohon kurma. Dahan pohon tersebut menjulur hingga ke arah rumahnya. Ketika malam hari angin bertiup, buah kurma yang matang sering jatuh ke halaman rumah Abu Dujanah.
Setiap pagi, sebelum anak-anaknya bangun, Abu Dujanah segera mengambil kurma tersebut dan mengembalikannya kepada pemiliknya.
Bukan karena ia tidak menyukai kurma itu, tetapi karena ia takut keluarganya memakan sesuatu yang bukan menjadi hak mereka.
Ayah yang Tidak Rela Memberikan Makanan Haram kepada Anak
Abu Dujanah kemudian menceritakan sebuah kejadian yang membuat Rasulullah SAW terharu.
Suatu hari, ia melihat salah satu anaknya mengambil kurma yang jatuh di halaman rumah mereka lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Abu Dujanah segera mengeluarkan kurma tersebut dengan tangannya.
Ia berkata kepada anaknya:
“Wahai anakku, janganlah engkau membuka aib ayahmu kelak di akhirat.”
Anaknya menangis karena merasa lapar. Namun Abu Dujanah tetap berusaha menjelaskan bahwa ia tidak ingin membiarkan sesuatu yang bukan milik mereka masuk ke dalam tubuh anaknya.
Ia kemudian mengembalikan kurma tersebut kepada pemiliknya.
Sikap Abu Dujanah menunjukkan bahwa menjaga kehalalan makanan menjadi bagian penting dalam mendidik keluarga.
Rasulullah SAW Menawarkan Pohon Kurma dengan Balasan Surga
Setelah mendengar cerita Abu Dujanah, Rasulullah SAW menanyakan siapa pemilik pohon kurma tersebut.
Abu Dujanah menjawab bahwa pohon itu milik seseorang yang dikenal memiliki sifat buruk.
Rasulullah SAW kemudian memanggil pemilik pohon tersebut dan menawarkan sebuah pertukaran.
Beliau menawarkan agar pohon kurma itu dijual dengan balasan sepuluh pohon kurma di surga. Pohon-pohon tersebut digambarkan memiliki kenikmatan yang sangat luar biasa.
Namun, orang tersebut menolak tawaran Rasulullah SAW.
Ia hanya ingin menjual pohon tersebut dengan pembayaran langsung yang menurutnya bernilai tinggi.
Melihat keadaan tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA kemudian menawarkan pertukaran lain.
Ia menawarkan sepuluh pohon kurma sebagai ganti dari satu pohon kurma milik orang tersebut.
Karena pohon kurma itu termasuk salah satu pohon terbaik di Madinah, akhirnya pemiliknya menyetujui pertukaran tersebut.
Pohon kurma itu pun menjadi milik Abu Dujanah.
Pohon Kurma Berpindah dengan Kehendak Allah SWT
Setelah menjual pohon tersebut, pemilik sebelumnya pulang ke rumah dan merasa telah mendapatkan keuntungan besar.
Ia berkata kepada istrinya bahwa ia telah menukar satu pohon kurma dengan sepuluh pohon kurma, tetapi masih berharap dapat menikmati buah dari pohon yang sebelumnya berada dekat rumahnya.
Namun, Allah SWT mengetahui segala niat manusia.
Pada malam harinya terjadi sebuah peristiwa luar biasa. Dengan kuasa Allah SWT, pohon kurma tersebut berpindah dari tempat sebelumnya menuju halaman rumah Abu Dujanah.
Keesokan paginya, pemilik lama pohon tersebut terkejut karena pohon yang dahulu berada di dekat rumahnya telah hilang.
Pohon itu telah berdiri kokoh di halaman rumah Abu Dujanah.
Sejak saat itu, Abu Dujanah dan keluarganya dapat menikmati buah kurma tersebut dengan tenang karena pohon itu telah menjadi hak mereka.
Hikmah dari Kisah Abu Dujanah
Kisah Abu Dujanah memberikan banyak pelajaran bagi umat Islam, di antaranya:
1. Allah Maha Kuasa atas Segala Sesuatu
Tidak ada sesuatu yang sulit bagi Allah SWT. Peristiwa berpindahnya pohon kurma menjadi pengingat bahwa seluruh alam berada dalam kekuasaan-Nya.
2. Menjaga Kehalalan Rezeki
Abu Dujanah memberikan contoh bahwa seorang muslim harus berhati-hati terhadap sesuatu yang bukan haknya, meskipun terlihat kecil.
3. Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anak
Kasih sayang orang tua bukan hanya memberikan makanan dan kebutuhan dunia, tetapi juga memastikan apa yang dikonsumsi anak berasal dari sumber yang halal.
4. Kejujuran Mendatangkan Keberkahan
Sikap amanah Abu Dujanah akhirnya mendapatkan pertolongan Allah SWT.
Kisah Abu Dujanah dan pohon kurma yang berpindah menjadi pelajaran berharga tentang keimanan, amanah, dan keyakinan terhadap kuasa Allah SWT.
Seorang muslim diajarkan untuk selalu menjaga hak orang lain, mencari rezeki yang halal, serta percaya bahwa Allah mampu memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan.
Wallahu a’lam.