
masjidmunzalan.id – Suasana Subuh di Masjid Munzalan Indonesia, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (5/10/2026), terasa berbeda. Rangkaian Subuh Menggapai Keberkahan (SMK) menghadirkan Tuan Guru Ustadz Prof. H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D. dalam kajian spesial bertema “Universitas Kehidupan: Ikhlas, Ridho, Sabar.”
Kegiatan tersebut bertepatan dengan 23 Rabi’ul Akhir 1448 H / 5 Oktober 2026 M, diawali dengan muqaddimah oleh KH. Luqmanulhakim (Ayahman). Mengawali kajian, Ayahman mengingatkan sebuah doa Rasulullah SAW:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
Doa tersebut menjadi pengingat bahwa waktu pagi, khususnya selepas Subuh, merupakan waktu yang penuh keberkahan untuk mengawali aktivitas dan menebar manfaat.
Ayahman kemudian menceritakan perjalanan awal SMK yang dahulu dikenal dengan aktivitas sederhana, hingga kini berkembang menjadi gerakan yang memiliki jangkauan luas.
“Dulu waktu awal SMK adalah Subuh Makan Kue,” ungkap Ayahman, mengenang perjalanan awal gerakan tersebut.
Kini, perkembangan itu terlihat dari semakin luasnya jejaring gerakan Munzalan. Ayahman menyampaikan bahwa telah terdapat 25 cabang masjid serta sekitar 140 cabang Paskas (Pasukan Amal Sholeh) di berbagai daerah di Indonesia.
Ia pun mengingatkan bahwa seluruh pencapaian tersebut bukan semata-mata karena kekuatan manusia.
هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي
“Ini adalah karunia dari Tuhanku.”
Menurut Ayahman, berbagai amanah yang dijalankan Munzalan juga terus diupayakan dengan tata kelola yang baik. Salah satunya ditandai dengan keberhasilan BMI memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama dua tahun berturut-turut melalui proses audit nasional.
“Masjidnya kecil, tapi fungsi dan kontribusinya untuk seluruh Indonesia,” menjadi gambaran bagaimana sebuah masjid dapat tumbuh menjadi pusat kebermanfaatan bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan Launching HAJAT — Hadiah Amal Jariyah Akhir Tahun 2026, sekaligus pengenalan Kawasan Wakaf Produktif (KWP) sebagai bagian dari upaya mengembangkan wakaf yang memberikan manfaat berkelanjutan.
UAS: Kita Berada di Dahan yang Sama
Memasuki materi utama, Ustadz Abdul Somad mengajak jamaah untuk mendoakan para guru dan orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjuangan dakwah.
“Kita doakan para guru kita panjang umur dan penuh berkah, ditempatkan di tempat yang baik, diberikan amal yang baik, dan semoga diistiqamahkan,” pesan UAS.
UAS kemudian menyampaikan sebuah perumpamaan menarik. Mungkinkah dalam satu dahan terdapat burung elang dan burung merpati?
Menurut UAS, dua burung dengan karakter berbeda bisa berada di dahan yang sama dalam waktu yang lama karena memiliki satu kesamaan: dahan tempat mereka bertengger. Begitu pula dengan jamaah yang hadir di Munzalan.
“Kita di dahan yang sama dalam waktu yang lama karena memiliki kesamaan. Dahan itu bernama Munzalan Mubarokan Indonesia,” ungkapnya.
UAS juga menyebut perjuangan Ayahman bersama Paskas (Pasukan Amal Sholeh) sebagai bagian dari gerakan yang terus menebar manfaat.
Tentang Nikmat yang Kelak Dipertanyakan
UAS kemudian mengingatkan jamaah tentang firman Allah SWT dalam QS. At-Takatsur ayat 8:
«ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ»
“Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).”
Menurut UAS, nikmat yang dimiliki manusia bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga akan dipertanggungjawabkan. Ia mengajak jamaah melihat Munzalan bukan hanya dari bentuk fisiknya sebagai sebuah masjid.
“Banyak orang yang belum tahu dan salah paham dengan Masjid Munzalan,” ujarnya.
Dengan nada bercanda, UAS bahkan melontarkan pertanyaan kepada jamaah:
“Jangan-jangan owner masjid ini adalah CEO yang menyamar.”
Candaan tersebut kemudian mengarah pada penjelasan tentang luasnya berbagai program sosial yang berjalan. UAS menyebut sekitar 600 ribu santri di Indonesia mendapatkan santunan setiap bulannya, di samping berbagai program kebaikan lainnya.
Teman Touring Banyak, Teman Dakwah Sedikit
UAS juga menyampaikan bahwa dalam perjalanan kehidupan, seseorang mungkin memiliki banyak teman yang memiliki hobi dan perjalanan yang sama.
“Banyak kawan sejalan, teman touring, tapi sedikit yang menjadi teman dakwah,” kata UAS.
Ia pun mengapresiasi keberadaan gerakan Infaq Beras yang memiliki pusat gerakan di Pontianak, Kalimantan Barat.
Hal tersebut menjadi sesuatu yang menurut UAS patut disyukuri, karena gerakan sosial berskala nasional tersebut justru memiliki pusat di luar Pulau Jawa.
“Gerakan Infaq Beras pusatnya di Pontianak. Berbeda dengan program biasanya yang pusatnya di Pulau Jawa,” jelasnya.
Mengajak Semua Orang Mengambil Peran
Dalam kesempatan tersebut, UAS mengajak seluruh jamaah untuk tidak hanya menjadi penonton dari berbagai gerakan kebaikan. Menurutnya, setiap orang dapat berkontribusi sesuai kemampuan dan keahliannya.
“Mari kita sama-sama bergerak,” ajaknya.
UAS menyampaikan bahwa dirinya dan para dai dapat mengambil bagian melalui ceramah dan tabligh akbar. Sementara jamaah dapat ikut berkontribusi melalui kemampuan masing-masing untuk menyukseskan berbagai program kebaikan, termasuk HAJAT — Hadiah Amal Jariyah Akhir Tahun 2026.
Pertanyaan penting yang kemudian dilemparkan kepada jamaah adalah:
“Apa yang mau kita tinggalkan?”
Bukan sekadar harta atau nama, tetapi kebaikan yang terus mengalir.
“Mari tinggalkan banyak kebaikan, wakaf dan amal jariyah yang mengalir sampai hari kiamat,” pesan UAS.
Ia juga mengingatkan tiga tingkatan keyakinan yang dikenal dalam khazanah Islam:
Ilmul Yakin, Ainul Yakin, dan Haqqul Yakin.
Kebersamaan yang terjalin di antara para penggerak dakwah, menurut UAS, bukanlah sebuah kebetulan. “Kami bisa berjalan bersama, karena Allah yang mempertemukan. Kita bersama karena Allah,” tuturnya.
Sibuklah dengan Kebaikan
Menjelang akhir kajian, UAS menyampaikan pesan sederhana namun kuat: manusia akan selalu disibukkan oleh sesuatu. Karena itu, pilihlah kesibukan yang memberikan manfaat.
“Kita banyak program bagus-bagus, tidak semua orang bisa ikut bersama,” ujarnya.
Lalu muncul sebuah pertanyaan reflektif: Mengapa kita disibukkan dengan hal-hal tersebut? Jawabannya sederhana. Karena jika seseorang tidak disibukkan dengan kebaikan, maka ia berpotensi disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Kajian Subuh pun ditutup dengan pantun ringan: Kalau tuan pergi ke Padang, Jangan lupa mencari berkah. Ini tak boleh panjang-panjang, Karena anak-anak sudah mau ke sekolah.
Subuh Menggapai Keberkahan pagi itu bukan sekadar menjadi ruang untuk mendengarkan kajian. Ia menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: apa yang akan kita tinggalkan setelah kehidupan ini berakhir?
Sebab pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa banyak kebaikan yang dapat kita wariskan dan terus mengalir setelah kita tiada.
Dari Masjid Munzalan Indonesia, Kubu Raya, Kalimantan Barat, gerakan kebaikan terus mengalir.
Penulis Abah Hanan, Editor Baba We