Pendiri Dan Sejarah
Masjid Kapal Munzalan Indonesia Perjalanan tersebut bermula pada tahun 2012 ketika didirikan oleh H. Muhammad Nur Hasan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Berdiri di sebuah gang sempit di tengah lingkungan yang mayoritas dihuni masyarakat non-Muslim, masjid berukuran 11 x 17 meter itu menjadi saksi awal tumbuhnya cita-cita besar untuk menghadirkan kemakmuran umat melalui masjid.
Pada tahun 2013, H. Muhammad Nur Hasan menyerahkan amanah pengelolaan masjid kepada KH. Luqmanulhakim. Amanah tersebut menjadi titik awal transformasi Masjid Munzalan menjadi pusat pembinaan umat yang tidak hanya memakmurkan masjid, tetapi juga menghadirkan manfaat luas bagi masyarakat.
Sebelum menerima amanah pengelolaan Masjid Kapal Munzalan Indonesia , KH. Luqmanulhakim telah lebih dahulu menginisiasi sebuah gerakan sosial bernama Infaq Beras di Kota Pontianak. Setelah berada di bawah naungan Masjid Munzalan Mubarakan, gerakan tersebut berkembang pesat dan menjadi salah satu program utama pemakmuran umat.
Untuk memperkuat fondasi pendidikan dan kaderisasi, pada tahun 2014 didirikan Pondok Masjid Munzalan Ashabul Yamin (PMMAY). Pada tahun yang sama, tepatnya bulan September 2014, dibentuk pula lembaga pengelola dana umat bernama Baitulmaal PMMAY yang kemudian pada tahun 2017 bertransformasi menjadi Baitulmaal Munzalan Indonesia (BMI). Seiring perkembangan tersebut, Program Infaq Beras berubah nama menjadi Gerakan Infaq Beras (GIB).
Pada Tahun 2026, Masjid Kapal Munzalan Indonesia mengalami perubahan nama menjadi Masjid Munzalan Mubarakan
KH. Luqmanulhakim | KH. Muhammad Nur Hasan
SHARE