
masjidmunzalan.id – Doa merupakan salah satu bentuk ibadah sekaligus senjata seorang muslim ketika segala daya dan upaya telah dilakukan. Dengan menengadahkan kedua tangan dan memohon kepada Allah SWT, seorang hamba menunjukkan bahwa dirinya memiliki keterbatasan dan hanya bergantung kepada Sang Maha Kuasa.
Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dan menjanjikan akan memperkenankan doa tersebut. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
Namun, dalam perjalanan hidup, seorang muslim terkadang merasa gelisah ketika doa yang dipanjatkan belum mendapatkan jawaban seperti yang diharapkan. Dalam kondisi tersebut, seorang hamba dianjurkan untuk tetap bersabar, berbaik sangka kepada Allah, sekaligus melakukan introspeksi terhadap diri dan amalnya.
Dalam sejumlah penjelasan ulama dan literatur keislaman, terdapat beberapa perkara yang dapat menjadi penghalang terkabulnya doa. Berikut di antaranya.
1. Menggunakan dan Menikmati Harta Haram
Harta memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan seorang muslim, termasuk dalam perkara ibadah dan doa. Karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk mencari rezeki melalui jalan yang halal.
Memperoleh harta dengan cara yang diharamkan, seperti riba, korupsi, penipuan, atau mengambil hak orang lain, bukan hanya mendatangkan dosa, tetapi juga dapat menjadi penghalang terkabulnya doa.
Rasulullah SAW memberikan gambaran tentang seseorang yang berdoa kepada Allah, tetapi makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan hidupnya berasal dari perkara haram.
Karena itu, selain memperbanyak doa, seorang muslim perlu memastikan bahwa rezeki yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup berasal dari jalan yang halal dan baik.
2. Terus-Menerus Berbuat Maksiat Tanpa Bertobat
Manusia tidak luput dari kesalahan. Namun, Islam mengajarkan agar setiap dosa segera diikuti dengan penyesalan, istighfar, dan taubat.
Maksiat yang dilakukan terus-menerus tanpa keinginan untuk kembali kepada Allah dapat membuat hati semakin jauh dari kebaikan. Hati yang dipenuhi dosa juga dapat memengaruhi kekhusyukan seseorang ketika beribadah dan berdoa.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih.” (HR. Tirmidzi)
Hadis tersebut mengingatkan bahwa taubat bukan hanya tentang meninggalkan dosa, tetapi juga menjadi jalan untuk membersihkan hati.
Maka, ketika doa belum kunjung mendapatkan jawaban, seorang muslim dapat menjadikan momentum tersebut untuk memperbanyak istighfar dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
3. Mengonsumsi Makanan dan Minuman Haram
Apa yang dikonsumsi seorang muslim juga perlu mendapatkan perhatian. Islam mengajarkan umatnya untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa kepada Allah.
Namun, Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan hidupnya berasal dari perkara haram. Dalam kondisi tersebut, Rasulullah SAW mempertanyakan bagaimana doanya akan dikabulkan.
Hadis ini menjadi pengingat penting bahwa seorang muslim tidak cukup hanya memperhatikan bentuk doa, tetapi juga harus memperhatikan sumber makanan, minuman, pakaian, dan harta yang digunakan dalam kehidupannya.
4. Berbuat Zalim kepada Orang Lain
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga hak sesama manusia. Kezaliman dapat berupa merampas hak orang lain, menipu, mencemarkan nama baik, menindas, ataupun menyakiti seseorang tanpa alasan yang dibenarkan.
Perkara ini tidak boleh dianggap ringan. Sebab, dosa yang berkaitan dengan manusia tidak cukup hanya diselesaikan dengan memohon ampun kepada Allah. Hak orang lain juga harus dikembalikan dan, ketika memungkinkan, kesalahan perlu diikuti dengan permintaan maaf.
Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang doa orang yang terzalimi. Karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam ucapan maupun perbuatannya agar tidak menjadi sebab penderitaan bagi orang lain.
Jika pernah mengambil hak seseorang atau melakukan kezaliman, salah satu bentuk ikhtiar untuk memperbaikinya adalah mengembalikan hak tersebut, meminta maaf, dan sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah SWT.
5. Memutus Tali Silaturahmi
Menjaga hubungan baik dengan keluarga dan sesama muslim merupakan bagian penting dalam ajaran Islam. Sebaliknya, memutus tali silaturahmi merupakan perkara yang harus dihindari.
Perselisihan, dendam, enggan bertegur sapa, atau sengaja merusak hubungan persaudaraan dapat menjadi sebab seseorang semakin jauh dari kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan menyambung silaturahmi, di antaranya dapat menjadi sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur.
Karena itu, ketika terdapat persoalan dengan keluarga atau saudara, seorang muslim dianjurkan untuk berusaha memperbaiki hubungan. Tidak selalu mudah, tetapi membuka pintu komunikasi, memaafkan, dan menghilangkan dendam merupakan bagian dari ikhtiar menjaga ukhuwah.
Jangan Berhenti Berdoa
Belum terkabulnya sebuah doa bukan alasan bagi seorang muslim untuk berhenti berharap kepada Allah SWT. Seorang hamba tetap diperintahkan untuk berdoa, berusaha, bersabar, dan memperbaiki diri.
Di samping itu, introspeksi juga penting dilakukan. Bisa jadi ada perkara dalam kehidupan yang perlu diperbaiki: sumber rezeki yang belum halal, dosa yang belum ditaubati, makanan yang belum diperhatikan kehalalannya, hak orang lain yang belum ditunaikan, atau hubungan silaturahmi yang renggang.
Doa dan ikhtiar hendaknya berjalan beriringan. Seorang muslim berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT dengan penuh tawakal.
Sebab, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Tugas seorang hamba adalah terus mengetuk pintu-Nya dengan doa, memperbaiki diri, dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT.